Beranda

Selasa, 21 Mei 2019

Kendaraan

Namanya Sabar. Ia dikontrak sama pak bos selama sisa ramadan. Jadi ngabuburitnya eike setiap hari di tempat ini. Kemarin si Sabar ditegur sama pak Bos. Romannya, eike ketahuan kalau malas mencuci kendaraan ini.

Disela waktu menunggu seorang tua menghampiri. Kulitnya hitam legam. Rambutnya sedikit ikal. Senyumnya bersahaja. "Kendaraan ini menemanimu kemana saja boy. Maka anggaplah ia bagian dari dirimu. Boy, kau tahu ada kendaraan yang jauh lebih hebat dari motor. Marvin J. Ashton bilang, kendaraan itu adalah cinta. Karena cinta bisa membawamu bepergian tanpa batas. Tapi di eramu yang edan ini boy, bahasa juga menjelma kendaraan. Bahasa menjadi kendaraan penghinaan dan penindasan rasis, tetapi di sisi lain bahasa juga bisa menjadi pembawa pesan dari harapan dan pembebasan," Tukasnya.

Selasa, 21 Mei 2019
*Nelson Mandela

Rabu, 12 Juli 2017

Puisi : "Secangkir Rindu"

Aku bertanya

Aku datang

Nihil

Khabar tiada

Lalu, warna indah dipinggir kali

Datang membawa khabar

Legalah sedikit

Tapi rindu?

Tanyanya padaku

Kataku, lihatlah gula pada kopi itu

Larut menjadi manis

Penawar kepahitan

Menyatu, harmonis nan nikmat

Kataku, begitulah rindu..

Lalu, katanya senyumnya akan jadi azimat

Penawar pahitnya rindu..

Karena ini tentang secangkir rindu..

#AGC
12/0717

Rabu, 28 Juni 2017

HUJAN by Akmal Galla Cendang

Di ringkus hujan, di berangus nyamuk..

Ini kesulitan yang membuat si lemah ambruk..

Terjebak di rimbun hutan coklat.
Menggigil karena dingin yang menyengat..

Kesulitan juga adalah nikmat.
Bersyukur agar jiwa tidak merasa sempit..

Tutup mata, dan berteduhlah di bawah hujan..

Rasakan setiap air yang mengguyur badan..

Fabi ayyi alaai rabbikumatukadziban..

Nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan?

29/06/2017

Kamis, 16 Maret 2017

Somba Opu, Museum, dan Golongan Merah Putih

Benteng Somba Opu merupakan salah satu kawasan wisata sejarah di Sulawesi Selatan. Benteng Somba Opu memiliki eksotismenya sendiri. Hampir setiap hari, benteng ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal. Di dalam benteng terdapat rumah-rumah adat dari berbagai daerah. Selain itu, terdapat museum dan meriam peninggalan kolonialisme sebagai sarana edukasi. Rimbunnya pepohonan yang menawarkan kesejukan, juga menjadi magnet pemikat untuk sekadar bersantai, ber-selfie ria atau beradu romantisme.

Benteng Somba Opu, melukiskan keragaman suku, ras, dan adat di Sulawesi Selatan. Bangunan-bangunan khas suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, dan Mandar berdiri dengan elegan. Saya pernah berpikir, seharusnya setiap tahun diadakan festival adat di tempat ini. Pesta akan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing daerah dari 4 etnis yang berbeda, lengkap dengan pakaian adatnya masing-masing. Kemudian di tanah lapang depan museum, panggung ditata untuk pementasan tarian tradisional dan nyanyian khas daerah. Sedang di sudut lain, tempat kuliner asli Sulawesi selatan dijajakan. Sungguh pemandangan yang indah, seindah tarian empat etnis yang biasa dimainkan oleh penari-penari. Barangkali ini bisa menjadi salah satu cara mengedukasi masyarakat dalam membumikan budaya Sulawesi Selatan.

Selama tujuh hari 7 malam berada di tengah-tengah benteng Somba Opu, menjadi semacam semedi sejarah yang saya lakoni. Terbayang sudah, bagaimana kebesaran kerajaan maritim Gowa-Tallo kala itu. Kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur ini, bahkan tercatat dalam Negarakertagama era Majapahit. Sedang benteng Somba Opu sendiri merupakan benteng utama kerajaan Gowa, yang didirikan oleh raja Gowa ke 9, lanjut http://kalaliterasi.com/somba-opu-museum-dan-golongan-merah-putih/

Sabtu, 28 Januari 2017

IBU

sumber : google image ibu
IBU
“Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia..
Dan kata ‘Ibuku’ merupakan sebutan terindah..
Kata yang semerbak penuh cinta dan impian,
Manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa..
Ibu adalah segalanya,
Ibu adalah penegas kita dikala lara,
Impian kita dalam rengsa,
Rujukan kita dikala nista..” (Khalil Gibran, Ibu)

Senin, 19 Desember 2016

Rembulan

Rembulan
By : Galla Cendang

Kau rembulan dalam pekat malam
Aku meraba kekosongan
Mencoba mencari jejak
Dimanakah cahya-MU?
Saat kusentuh sebuah prasasti dari tanah berpasir
Hujan mengguyur sedang langit cerah
Hilang semua..

Kau rembulan dalam pekat jiwa..
Aku berani berjalan
Sebab senyummu adalah cahya
Yang menyinari lubang jiwa yang hampa..

Kau rembulan..
Aku melihat semua penjuru menjadi Satu
Lalu seketika “Kun faya kun”
Aku melihat cahya dan mampu merasakan getar
Lewat hadirmu
Cinta menjadi hidayah

Selasa, 08 November 2016

Catatan Pa Kampoeng : Aksi Logika Pekan ke 4

Pekan ini, pemuda-pemudi itu masih nekad turun aksi, pasca tragedi 4 november. Bisa dibilang aksi yang ini, merupakan turunan aksi damai 4 November. Hanya beda pada tujuan dan arahnya. Aksi ini digelar sebagai salah satu bentuk perlawanan, dari budaya libur belajar, yang selama ini banyak menjajah pikiran para pemuda.

Tak banyak massanya, hanya kisaran 10 orang lebih. Pukul 10.00 wita, disepakati sebagai waktu aksi dimulai. Titik kumpul di tentukan di kampus paradigma institute, sebagai salah satu kampus yang memang visinya adalah meningkatkan budaya intelektual kaum pelajar.

Rektor kampus ini adalah, sosok sederhana nan karismatik. Tapi, ia sedekahkan waktu dan tempatnya untuk dijadikan kampus. Tidak banyak titel memang yang disandangnya, selayaknya rektor-rektor kampus lain, tapi dari keilmuan, patutlah disandingkan dengan tokoh macam cak nur dan sebagainya. Wajah pun demikian, sosok penggemar arsenal ini mirip tokoh kang Maman dan Kick Andy.

Kembali ke aksi yang kami gelar. Orator sekaligus koordinator aksi ini tiga orang.  Mereka adalah tiga pemuda yang rela menghabiskan waktunya untuk kegiatan literasi. Pak Rektor bilang, mereka macam lelaki panggilan. Bedanya, kalau mereka ini menyerahkan ilmu dan waktunya, untuk dinikmati siapapun yang butuh.
Aksi di mulai, hanya satu orator yang hadir dan 5 orang massa, di ruangan yang dijejali ribuan buku. Isu pertama yang diangakat tentang hubungan partikular dan hubungan universal. Kemudian hubungan universal di pecah menjadi empat.

"Pertama, hubungan universal identik. Hubungan identik adalah dua hubungan universal yang beda makna, tetapi memiliki ekstensi yang sama. Misal, manusia dan rasional. Manusia itu sudah pasti rasional dan yang rasional itu adalah manusia." kata orator aksi menggebu-gebu.
Peserta aksi dengan taksim, serentak menorehkan pena di buku masing-masing.

Perhubungan yang ke dua menurut orator yang juga sebagai guru adalah hubungan universal ekuivalen. Hubungan ekuivalen adalah dua hubungan universal beda makna, dan ekstensi yang satu melingkupi ekstensi yang lain. Artinya bahwa tingkat keluasaan makna term yang satu, lebih luas dari yang lain. Misal, antara kambing dan hewan. Semua kambing adalah hewan, tapi sebahagian hewan bukan kambing.

Perhubungan selanjutnya adalah hubungan asosiatif. Hubungan ini merupakan dua hubungan universal yang beda makna tapi bisa bertemu pada satu ekstensi. Misal, antara putih dan burung. Ekstensi keduanya bertemu pada bangau yang memiliki bulu putih. Dalam matematika inilah yang di sebut sebagai irisan himpunan. Jika di gambarkan ke dalam diagram venn, dua lingkarannya terkait.

"Hubungan yang terakhir adalah hubungan beda," tandas orator. Hubungan beda ini adalah dua hubungan universal beda makna dan ekstensinya tidak bisa bertemu sama sekali.

Akhirnya, sampailah pada puncak aksi. Dan sebelum aksi di bubarkan, orator mengatakan jika aksi berikutnya akan di laksanakan pekan depan, dengan massa yang lebih banyak.

Reporter : Galla cendang