Beranda

Selasa, 21 Mei 2019

Sunyi

"Tahukah engkau sayang, kenapa aku mencintai sunyi? Bukan karena aku tidak suka keramaian. Tetapi lewat pelajaran agamaku di sekolah, aku tahu kesunyian yang menemaniku di alam rahim. Bersama kesunyian itu juga, katanya aku bicara dengan Tuhanku. Lalu aku lahir dan disambut oleh keramaian. Gelak tawa dan tangis. Bapakku menimangku dan meneriakkan adzan ditelingaku. Tapi suara Tuhan telah lenyap, tenggelam dalam kegaduhan. Dan kini, suara-suara makhluk mencoba menyamai suara-suara Tuhan. Memaki, melaknat, dengan lisan yang katanya itu suara tuhan. Sedang Tuhan seperti membisu. Suaranya hilang dalam kegaduhan."

"Kau tahu sayang.. dalam kesunyian yang kutemukan dalam kesepian, aku sedang mencoba mendengarkan suara Tuhan. Jadi tak usahlah kau cemburu, karena sama saja kau cemburu pada Tuhan. Sedang Tuhan jauh lebih cemburu jika aku lebih mencintaimu dan engkau lebih mencintaiku."

"Saya kemarilah.. aku ingin jujur satu hal lagi tentang kesunyian yang kucintai itu. Tapi berjanjilah, kau jangan marah apa lagi membenciku seperti kebencian yang dimiliki orang-orang di luar sana yang mengaku lebih suci dari saudaranya yang menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda. Kemarilah sayang, lebih dekatlah agar kesunyian yang kurasakan bisa kau rasakan juga walaupun kau dan aku tidak lagi kesepian."

"Sayang, dengarlah baik-baik, satu waktu dalam perjalananku mencari kesunyian sejati, aku bertemu kesunyian lain. Gelap. Mencekam. Aku belum takut saat itu. Dalam kesunyian itu, hampir kupetik mahkota Tuhan dan menumpahkan darahku di tempat di mana Tuhan pertama kali bicara dengan kita. Aku berpikir Tuhan ada di sana saat aku bermain-main dengan semua itu. Hingga aku sadar setelah Tuhan memberiku tanda lewat air mata dan ingatan tentang "ibu" sayang. Aku tersentak dan ingat bahwa mahkota itulah yang dimainkan oleh buyutku sehingga Tuhan murka dan mengusir mereka dari rumah sayang. Terdamparlah kita semua dalam dunia yang gaduh ini."

"Jangan menangis sayangku. Usaplah air matamu. Ketinggalkan kesunyian itu dan berjalan lebih jauh sayang. Walaupun setiap langkahku dihantui sesal, tapi aku tahu Tuhan menerima Tobatku seperti Dia menerima tobat buyutku dan menganugerahinya dengan rahmat yang tak ada putusnya."

"Sayang.. saat ini aku masih mencintai kesunyian. Sebab dalam kesunyian, aku selalu bertemu dengan diriku yang lain. Di yang kutinggalkan dalam kesunyian yang kubenci itu. Aku tidak bisa membunuhnya sebab dia adalah aku. Tapi dalam kesunyian aku bisa bertarung dengannya. Dalam kesunyian, aku bisa berbicara dan mengajaknya untuk bersama-sama bertemu dengan Tuhan."

Puasa Jiwa

Kemarin gegara berkunjung ke toko buku, niatnya sekadar silaturahmi sekaligus mengambil buku untuk seorang kawan, jebol satu hasratku yang sedang coba kupuasakan. Tak kunyana kepincut juga diskon 20% dan bazar murah, aku pun miskin kembali. Hihihi.. Padahal sehari sebelumnya ingin beli sepasang sepatu dan sebuah celana. Urung jua niatan itu. Tak apalah, kemarin hari buku nasional, mungkin sudah menjadi naluri untuk memperingati hari buku. Sahabat terbaik yang selalu ada dalam kondisi apapun. Dalam pada itu, si orang tua pengembala yang merumputkan sapinya di tanah lapang dekat masjid menyambangiku. Katanya cukup terganggu dengan tingkahku yang tadinya masyuk merawat tanaman, lalu sesekali kembali mengotak atik buku yang menumpuk di selasar masjid. Usai kuceritakan tentang buku itu, mengalirlah tuturnya sejuk seperti embun di pagi hari. "Puasa itu pertarungan nak. Kau melawan dirimu sendiri. Bukan sekadar bentrok benar dan salah. Lebih dari itu, pada era di mana konsumerisme menjadi tuan dalam diri, materi dipandang sebagai segalanya, maka saat itu juga pertarungan yang ada adalah antara keinginan dan kebutuhan. Usahlah risau, kemarin yang menang adalah kebutuhanmu, karena buku adalah kebutuhan jiwamu. Makanan bagi jiwamu nak. Membaca serupa memberi makan bagi jiwa. Camkan itu!"

#18 Mei 2019

Kendaraan

Namanya Sabar. Ia dikontrak sama pak bos selama sisa ramadan. Jadi ngabuburitnya eike setiap hari di tempat ini. Kemarin si Sabar ditegur sama pak Bos. Romannya, eike ketahuan kalau malas mencuci kendaraan ini.

Disela waktu menunggu seorang tua menghampiri. Kulitnya hitam legam. Rambutnya sedikit ikal. Senyumnya bersahaja. "Kendaraan ini menemanimu kemana saja boy. Maka anggaplah ia bagian dari dirimu. Boy, kau tahu ada kendaraan yang jauh lebih hebat dari motor. Marvin J. Ashton bilang, kendaraan itu adalah cinta. Karena cinta bisa membawamu bepergian tanpa batas. Tapi di eramu yang edan ini boy, bahasa juga menjelma kendaraan. Bahasa menjadi kendaraan penghinaan dan penindasan rasis, tetapi di sisi lain bahasa juga bisa menjadi pembawa pesan dari harapan dan pembebasan," Tukasnya.

Selasa, 21 Mei 2019
*Nelson Mandela

Rabu, 12 Juli 2017

Puisi : "Secangkir Rindu"

Aku bertanya

Aku datang

Nihil

Khabar tiada

Lalu, warna indah dipinggir kali

Datang membawa khabar

Legalah sedikit

Tapi rindu?

Tanyanya padaku

Kataku, lihatlah gula pada kopi itu

Larut menjadi manis

Penawar kepahitan

Menyatu, harmonis nan nikmat

Kataku, begitulah rindu..

Lalu, katanya senyumnya akan jadi azimat

Penawar pahitnya rindu..

Karena ini tentang secangkir rindu..

#AGC
12/0717

Rabu, 28 Juni 2017

HUJAN by Akmal Galla Cendang

Di ringkus hujan, di berangus nyamuk..

Ini kesulitan yang membuat si lemah ambruk..

Terjebak di rimbun hutan coklat.
Menggigil karena dingin yang menyengat..

Kesulitan juga adalah nikmat.
Bersyukur agar jiwa tidak merasa sempit..

Tutup mata, dan berteduhlah di bawah hujan..

Rasakan setiap air yang mengguyur badan..

Fabi ayyi alaai rabbikumatukadziban..

Nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan?

29/06/2017

Kamis, 16 Maret 2017

Somba Opu, Museum, dan Golongan Merah Putih

Benteng Somba Opu merupakan salah satu kawasan wisata sejarah di Sulawesi Selatan. Benteng Somba Opu memiliki eksotismenya sendiri. Hampir setiap hari, benteng ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal. Di dalam benteng terdapat rumah-rumah adat dari berbagai daerah. Selain itu, terdapat museum dan meriam peninggalan kolonialisme sebagai sarana edukasi. Rimbunnya pepohonan yang menawarkan kesejukan, juga menjadi magnet pemikat untuk sekadar bersantai, ber-selfie ria atau beradu romantisme.

Benteng Somba Opu, melukiskan keragaman suku, ras, dan adat di Sulawesi Selatan. Bangunan-bangunan khas suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, dan Mandar berdiri dengan elegan. Saya pernah berpikir, seharusnya setiap tahun diadakan festival adat di tempat ini. Pesta akan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing daerah dari 4 etnis yang berbeda, lengkap dengan pakaian adatnya masing-masing. Kemudian di tanah lapang depan museum, panggung ditata untuk pementasan tarian tradisional dan nyanyian khas daerah. Sedang di sudut lain, tempat kuliner asli Sulawesi selatan dijajakan. Sungguh pemandangan yang indah, seindah tarian empat etnis yang biasa dimainkan oleh penari-penari. Barangkali ini bisa menjadi salah satu cara mengedukasi masyarakat dalam membumikan budaya Sulawesi Selatan.

Selama tujuh hari 7 malam berada di tengah-tengah benteng Somba Opu, menjadi semacam semedi sejarah yang saya lakoni. Terbayang sudah, bagaimana kebesaran kerajaan maritim Gowa-Tallo kala itu. Kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur ini, bahkan tercatat dalam Negarakertagama era Majapahit. Sedang benteng Somba Opu sendiri merupakan benteng utama kerajaan Gowa, yang didirikan oleh raja Gowa ke 9, lanjut http://kalaliterasi.com/somba-opu-museum-dan-golongan-merah-putih/

Sabtu, 28 Januari 2017

IBU

sumber : google image ibu
IBU
“Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia..
Dan kata ‘Ibuku’ merupakan sebutan terindah..
Kata yang semerbak penuh cinta dan impian,
Manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa..
Ibu adalah segalanya,
Ibu adalah penegas kita dikala lara,
Impian kita dalam rengsa,
Rujukan kita dikala nista..” (Khalil Gibran, Ibu)