Beranda

Selasa, 03 September 2019

Keluh


Setelah merenung sejenak tentang segala hal belakangan ini, sahaya sampai pada satu titik kesadaran. Di mana tidak lagi bisa maju karena jelas itu kesalahan, dan tidak bisa mundur sebab itu telah berlalu. 

Dalam gundah berselimut gulita, Panrita muncul di balik kegelapan. Songkoknya miring ke kanan, pertanda si bijak yang mengada. "Nak, jelas engkau harus bermuhasabah. Sebab dikau banyak mengeluhkan hal sepele pada orang lain. Itu tanda engkau amat fakir dalam pikir dan ikhtiar. Habib Puang Makka pernah menukas tutur, sering mengeluh adalah tanda kelemahan dan ketidakmampuan, lawannya adlh sering bersyukur. Lawanlan kelemahan itu dengan perbanyak bersyukur," katanya sebelum gelap menelannya.

Senin, 02 September 2019

Acong dan Bahlul


   
   
   Selasa pagi, kopi dan buku-buku yang merajut untuk dijamah. Memang lumayan lama sahaya berpuasa dari membaca buku. Dipuasakan oleh keadaan dan kemalasan yang melilit. Sedang sekarang saja masih berat mengejanya. 
   Tetiba Bahlul datang dan menyambar salah satu buku, duduk dengan santainya di atas sadel motor. Lelaki yang bidakna semrawut dan muka selalu menggelikan ketika dipandang, lekas menyeruput kopiku dalam-dalam sampai menimbulkan bunyi ssssrrrr.. 
   "ckck.. syahdunya.." batinku. 
   "Hehe.. kalau mau membaca, baca saja. IQRO' kata Jibril pada kanjeng Nabi. Jangan di entar-entar Cong, entar kopimu juga kosong macam kepalamu itu kini. Hihi.." katanya sambil cengengesan..

Jumat, 21 Juni 2019

Pertemuan Kedua

Sumber: noviannto.wordpress.com
       Perjumpaanku dengan Rumi membuka noktah hitam yang menyelimutiku. Rumi, seorang lelaki tua khas dengan capingnya yang usang. Jenggot putih lebat menjuntai hingga dada.
  Ada satu yang menarik darinya, tingkahnya kadang nyeleneh dan susah dimengerti disertai tawa setelahnya. Tapi siapa sangka ia begitu puitis. Tapi saya lebih suka menyebutnya suka ngawur.
  Seperti malam ini, sembari metap purnama ia pun berceloteh, "Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan." Ia lalu tertawa dan diam. 
   Kini telunjuknya menuding purnama, "Luka adalah tempat di mana cahaya masuki Anda."

Sabtu, 15 Juni 2019

Amarah

Akhirnya, muntab jua. Api yang bertahun-tahun coba kau matikan, membakar kembali jiwamu. Terpuruk, merasa kalah, kuputuskan mengunjungi Kedai Imaji. Usai memesan kopi tiwus, kupilih membuang diri di meja nomor 10 yang terletak di pojok belakang. Selain dekat musallah, juga tempat favorit si kakek Rumi.

Sang barista menghampiri, "Kopi tiwus ini mengajarkan walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya," katanya sok filosofis sembari menaruh kopi di meja. Sunyi kembali.

Dari musallah samar-samar terdengar suara Aa berkhotbah di mimbar, "Siapakah orang yang kurang ilmu? Dialah orang yang mengandalkan otot dan amarah dalam menyikapi segala sesuatu." Aku tak bisa mengelak.

Senin, 27 Mei 2019

Narasi Imajinasi

Tak ada narasi dan aku pun takut berimajinasi. Sebab hampir semua narasi dicurigai sebagai narasi provokatif dan berimajinasi serupa dosa besar. Syak wasangka manusia seperti ilalang liar di atas tai sapi. Ilalang merambati hati turunan Adam. Matanya tajam mengawasi. Bibirnya menyungging senyum picik.

Tak heran, Voltaire menuduh prasangka sebagai alasan orang bodoh. Tapi Albert, lelaki cerdas itu menghiburku, "berimajinasilah! Imajinasi anda adalah wahana dari atraksi kehidupan Anda di masa mendatang."

Entengnya ia berkata, tanpa tahu imajinasinya meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki. Chaplin pun angkat suara, "jangan takut. Imajinasi tidak berarti apa-apa tanpa berbuat sesuatu bung."

Minggu, 26 Mei 2019

Rindu

Pagi ini, bukan kemalasan. Tapi rindu yang menyelimuti. Seperti kabut embah Ramma' pagi itu dan mendung pekat hari ini. Ia mengendap seperti kopi di dasar cangkir yang belum pernah kau seduh.

Lihatlah di sana, tepat di kelopak kembang itu. Kumbang berjinjit di atas embun mengintip sari bunga. Kado bagi kekasih katanya. Di tangkai yang lain sejajar dengan kumbang itu, kupu-kupu ekor layang-layang melayang rendah. Merana ia ditinggal kekasih. Ia hinggap dekat kumbang yang mengiba sembari menyandungkan syair Joko Pinorbo, "kawan, cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya." Lalu hujan merancak di atas daun, menguyur semuanya. 😴

Sabtu, 25 Mei 2019

Belajar

Tekor! Libur panjang ramadanku banyak diisi dengan tidur. Bangun dengan perasaan antah berantah, rambut awut-awutan. Lalu, tidur kembali berselimut kemalasan. 😴 Dalam lelap Mila kawanku menyambangi mimpiku. Aku geram tentunya. Tidur pulasku dalam mimpi diganggu setan tengik ini.

"Om..om.. Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar. Itu pesan Gus Mus om, hihi" katanya.

Tak puas, Mila lalu menutur kisah. Katanya di dunia para hantu Socrates sedang sibuk belajar musik di kafe tempat Bethoven mangkal dengan Shakespeare yang berpuisi tentang rindu.  Lalu ada orang berkata padanya, "Apakah engkau tidak malu belajar di usia tua? Dia menjawab, "Aku merasa lebih malu menjadi orang bodoh di usia tua."