Beranda

Sabtu, 28 Januari 2017

IBU

sumber : google image ibu
IBU
“Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia..
Dan kata ‘Ibuku’ merupakan sebutan terindah..
Kata yang semerbak penuh cinta dan impian,
Manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa..
Ibu adalah segalanya,
Ibu adalah penegas kita dikala lara,
Impian kita dalam rengsa,
Rujukan kita dikala nista..” (Khalil Gibran, Ibu)

Senin, 19 Desember 2016

Rembulan

Rembulan
By : Galla Cendang

Kau rembulan dalam pekat malam
Aku meraba kekosongan
Mencoba mencari jejak
Dimanakah cahya-MU?
Saat kusentuh sebuah prasasti dari tanah berpasir
Hujan mengguyur sedang langit cerah
Hilang semua..

Kau rembulan dalam pekat jiwa..
Aku berani berjalan
Sebab senyummu adalah cahya
Yang menyinari lubang jiwa yang hampa..

Kau rembulan..
Aku melihat semua penjuru menjadi Satu
Lalu seketika “Kun faya kun”
Aku melihat cahya dan mampu merasakan getar
Lewat hadirmu
Cinta menjadi hidayah

Selasa, 08 November 2016

Catatan Pa Kampoeng : Aksi Logika Pekan ke 4

Pekan ini, pemuda-pemudi itu masih nekad turun aksi, pasca tragedi 4 november. Bisa dibilang aksi yang ini, merupakan turunan aksi damai 4 November. Hanya beda pada tujuan dan arahnya. Aksi ini digelar sebagai salah satu bentuk perlawanan, dari budaya libur belajar, yang selama ini banyak menjajah pikiran para pemuda.

Tak banyak massanya, hanya kisaran 10 orang lebih. Pukul 10.00 wita, disepakati sebagai waktu aksi dimulai. Titik kumpul di tentukan di kampus paradigma institute, sebagai salah satu kampus yang memang visinya adalah meningkatkan budaya intelektual kaum pelajar.

Rektor kampus ini adalah, sosok sederhana nan karismatik. Tapi, ia sedekahkan waktu dan tempatnya untuk dijadikan kampus. Tidak banyak titel memang yang disandangnya, selayaknya rektor-rektor kampus lain, tapi dari keilmuan, patutlah disandingkan dengan tokoh macam cak nur dan sebagainya. Wajah pun demikian, sosok penggemar arsenal ini mirip tokoh kang Maman dan Kick Andy.

Kembali ke aksi yang kami gelar. Orator sekaligus koordinator aksi ini tiga orang.  Mereka adalah tiga pemuda yang rela menghabiskan waktunya untuk kegiatan literasi. Pak Rektor bilang, mereka macam lelaki panggilan. Bedanya, kalau mereka ini menyerahkan ilmu dan waktunya, untuk dinikmati siapapun yang butuh.
Aksi di mulai, hanya satu orator yang hadir dan 5 orang massa, di ruangan yang dijejali ribuan buku. Isu pertama yang diangakat tentang hubungan partikular dan hubungan universal. Kemudian hubungan universal di pecah menjadi empat.

"Pertama, hubungan universal identik. Hubungan identik adalah dua hubungan universal yang beda makna, tetapi memiliki ekstensi yang sama. Misal, manusia dan rasional. Manusia itu sudah pasti rasional dan yang rasional itu adalah manusia." kata orator aksi menggebu-gebu.
Peserta aksi dengan taksim, serentak menorehkan pena di buku masing-masing.

Perhubungan yang ke dua menurut orator yang juga sebagai guru adalah hubungan universal ekuivalen. Hubungan ekuivalen adalah dua hubungan universal beda makna, dan ekstensi yang satu melingkupi ekstensi yang lain. Artinya bahwa tingkat keluasaan makna term yang satu, lebih luas dari yang lain. Misal, antara kambing dan hewan. Semua kambing adalah hewan, tapi sebahagian hewan bukan kambing.

Perhubungan selanjutnya adalah hubungan asosiatif. Hubungan ini merupakan dua hubungan universal yang beda makna tapi bisa bertemu pada satu ekstensi. Misal, antara putih dan burung. Ekstensi keduanya bertemu pada bangau yang memiliki bulu putih. Dalam matematika inilah yang di sebut sebagai irisan himpunan. Jika di gambarkan ke dalam diagram venn, dua lingkarannya terkait.

"Hubungan yang terakhir adalah hubungan beda," tandas orator. Hubungan beda ini adalah dua hubungan universal beda makna dan ekstensinya tidak bisa bertemu sama sekali.

Akhirnya, sampailah pada puncak aksi. Dan sebelum aksi di bubarkan, orator mengatakan jika aksi berikutnya akan di laksanakan pekan depan, dengan massa yang lebih banyak.

Reporter : Galla cendang

Senin, 08 Agustus 2016

Catatan Harian

8/Agustus/2016

Semua dalam genggaman Kuasa-Nya,.
Gerakmu dan geraknya adalah kehendak-Nya
Dikau bolehlah punya kehendak, tapi kehendak-Nyalah yang terbaik..
"KUN FAYA KUN.."
Lalu siapa kau berani menghujat??

Kau ingin perjumpaan dengan makhluk, sebab kau mengira perjumpaan dengannya satu-satunya penawar rindumu..
Kau perkuat inginmu dengan doa,
Tapi kau enggan untuk bersabar dengan dalih kesabaran memiliki batas..

Tidakkah kau ingat bahwa kesabaran itu adalah semesta yang terhampar tanpa batas?
Keputus asaan dan keakuanmulah yang membatasinya..

Bersabarlah seperti sabarnya para nabi..
Jika sudah waktunya, ia akan membawamu pada pertemuan yang kau harapkan..!!
Bukankah Dia adalah Sang Yang telah memperjalankan Kekasih-Nya?
Perjalanan yang bermuara pada pertemuan hakiki..
Selayaknya pertemuan dengan-Nyalah yang kau harapkan..

Maka yakinlah seperti keyakinan Abu Bakar..
Sebab semua berangkat dari keyakinan..

Minggu, 05 Juni 2016

Jejak I Rungkana Galla Cendang 2



                          Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Sedang para burung camar yang sedari tadi mengangkasa mencari makan atau hanya untuk sekadar bertengger di karang menikmati sabda-sabda semesta, kini mulai hilang di bawah bayang-bayang senja. Mereka tahu bahwa sebentar lagi sang malam akan tiba, itulah saat terbaik untuk bersua dengan-Nya, bersimpuh dan tenggelam dalam samudera zikir hingga menyatu dengan ketiadaan.
                        Di bibir pantai yang sama, Galla Cendang masih belum beranjak dari duduknya, matanya terus menatap bola raksasa di ujung cakrawala yang perlahan menghilang. Ia membayangkan bola raksasa itu ditelan oleh makhluk yang jauh lebih besar dan buas, sehingga dunia menjadi gelap gulita. Mungkin itulah batara kala, Rahwana, atau sang Dajjal yang dalam cerita digambarkan sebagai tokoh antagonis, sang angkara murka yang dalam setiap napasnya menebar penderitaan dan kematian.  Ia tersentak saat mendengar gema takbir dimana-mana, melintasi ruang hampa dan menjadikan dunia yang tadinya gelap gulita kini penuh dengan gemerlap cahaya yang menghiasi cakrawala. Galla Cendang begitu takzim mendengar suara itu, ia menghayati setiap kata yang mengandung makna kebesaran Sang Maha Penguasa. Hingga tanpa ia sadari hatinya bergetar, air matanya meleleh. Dalam isak tangisnya, ia teringat akan masa lalunya yang kelam. Masa dimana ia menjadi anak manusia angkuh dan sombong di hadapan Tuhan, sehingga ia lalai dan  banyak bermaksiat. Lupa bahwa ia akan mati, dan melupakan tujuan sucinya datang ke tanah daeng ini.
                        Bayangan bapak dan ammanya juga turut hadir, dengan wajah yang mulai nampak garis-garis keriput pertanda usianya tidaklah lagi muda. Akan tetapi buatnya, itu adalah pertanda kekuatan mereka dalam mengarungi samudera kehidupan yang keras ini, bertarung tanpa pernah mengeluh dan berputus asa demi anak-anaknya. Ia seolah melihat Ammanya tersenyum manis, senyum yang meneduhkan jiwa. Dan matanya yang nampak berkaca-kaca dengan tatapan yang mengalirkan kasih sayang. Sambil mengangkat kedua tangannya seolah hendak memeluk anaknya yang teramat dirindukanya. Sedang disisi ammanya, bapaknya berdiri tengar dengan kharisma yang berwibawa. Tak tampak sedikitpun lelah dan keluh dari wajahnya meski keringat masih mengalir membasahi bajunya, pertanda ia baru pulang dari membajak sawah dan mencari makan untuk sapi ternaknya.
                        Saat ia hendak memeluk dan bersimpuh dihadapan amma dan bapanya, bayangan itu menghilang. Air matanya pun semakin mengalir deras, ia pun bergumam dengan nada yang sedikit bergetar,  “O..Amma, O..Bapak…!! Sanna nakkuku mange ri gitte. Sanna ero’na nyawaku anraka’ki, ampala poppora mange ri gitte sa’genna ku bau cappa bangkenta. Nasaba, nakke ana’ta tanre kulle ku pa’gang pappasanta mange ri nakke..!!” (Wahai Ibu, wahai ayahku..!! aku sangat merindukan kalian. Sangat ingin aku memohon maaf kepadamu sampai kucium ujung kakimu, karena saya anakmu tidak sanggup memegang amanah darimu). Kerinduan pada orang tuanya juga membawanya pada kerinduan kepada Sang, Tuhan Yang tidak pernah menurunkan azabnya walaupun selama ini ia sering kali bermaksiat kepada-Nya. Ia juga kini rindu pada sosok sang Avatar Agung, putra Abdullah Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi  umat manusia.
            Kerinduan-kerinduan inilah yang kini menuntunya berjalan dalam kegelapan, mencari secercah cahaya pengharapan. Gemuruh ombak yang tadi seperti gemuruh jiwanya yang gelisah mulai tak terdengar lagi. Ia tak tahu hendak kearah mana ia melangkahkan kakinya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah berjalan mencari Mesjid. Agar ia bisa sembahyang dan berteduh, sebab hujan kini mulai mengguyur. Ia tidak tahu, kenapa hujan tiba-tiba turun padahal tadi ia melihat langit cerah dengan bintang-bintang  walaupun memang dibagian langit lain terlihat awan mendung. 
                 Tanpa terasa, kini Galla Cendang berdiri dihadapan gerbang mesjid, yang di depan mesjid nampak papan persegi berwarna hijau berukuran satu meter. Papan itu bertuliskan, mesjid at-Taubatan Nasuha jalan Daeng Salama’, Kelurahan Ihsan Kecamatan Al-Iman. Langkahnya kini terhenti, ia melihat seseorang dari kejauhan di bawah temaram sinar lampu mesjid yang agak redup nan sejuk. Seorang gadis berjilbab putih mengangkat sedikit kain roknya dan berjalan hati-hati dengan payung di bawah hujan. Gadis itu baru keluar dari mesjid.

Kamis, 05 Mei 2016

Catatan Pa Kampoeng : Perang

Berperanglah.. Bertempurlah dalam kenyataan.. Meski kau tahu ada kekalahan.. Percayalah, darahmu tak akan sia-sia..!! #Gola_Gong